Saleh Hayat: “Tidak ada sejarah ‘Rebu Wekasan’ Sebagai Hari Sial”

Dalam suatu tradisi, biasanya identik dengan adanya acara khusus pada hari hari tertentu, tak terkecuali dengan Rebu Wekasan, yaitu hari Rabu di akhir bulan Shafar.

Mengenai di turunkannya bala’ atau musibah yang banyak pada hari itu wakil ketua PW NU Jawa Timur, Saleh Hayat menjelaskan, “Sejarahnya Nabi-nabi sial pada hari Rabu Wekasan atau Hari Rabu Terakhir pada bulan Shafar itu tidak benar..” komentarnya ketika di wawancarai okezone.com pada Ahad (29/12/2013)

Justru yang tercatat ada kesamaan para Nabi adalah pada 10 Muharram, lanjut beliau yang juga menjadi anggota komisi E DPRD JaTim ini .
Pada waktu itu, Nabi Ibrahim dibebaskan dari Api yang membakarnya, kemudian Nabi Yunus dikeluarkan dari perut Ikan Nun.

Tak hanya itu, pada 10 Muharam juga terdapat peristiwa diturunkannya Nabi Adam ke dunia, termasuk bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa pada tanggal itu.

Ketua Tim Ru’yatul Hilal PWNU Jatim ini juga menyebut, setiap celakanya seseorang bukan karena perhitungan hari atau bulan, melainkan sudah tercatat atau ditakdirkan.
“Bukan karena hari apa atau bulan apa, ya memang setiap musibah seseorang sudah ditentukan oleh Allah,” katanya.

Nah, tradisi Rebu Wekasan dengan menggelar doa tolak balak minimal mengurangi malapetaka seseorang. Tidak ada salahnya berdoa untuk kebaikan meskipun tanpa menunggu Rebu Wekasan.

“Ya minimal itu ada yang meringankan. Ibarat orang jatuh hanya luka-luka ringan tidak sampai luka berat atau meninggal,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s