Telaga Dan Garam

Satu waktu Simbah lagi udud Kretek di pagi hari, bertanya pada cucunya yang sering mengeluh.

Simbah: “kenapa to Cu,awakmu koq nggersah terus…”

“ya Mbah, hidupku koq begini-begini saja…” Jawab si Cucu dengan suara parau.
“Semuanya seperti serba sulit, Mbah…” lanjutnya.

“Hmmm… Ngono to? Mendekatlah,Cu. Jawab Simbah dengan arifnya.

Lalu Simbah menyuruh si cucu mengambil garam satu genggam.

“Itu Garam kamu aduk dengan air satu gelas merata”. Perintah Simbah

Cucu: “Inggih, Mbah” (dengan perasaan heran)

Simbah: ” coba kamu minum air gelas ini”.

Begitu si Cucu meminum, “Huueeex…Asin lekaq, Mbah.. !?”

Sembari tersenyum,lalu simbah mengajak cucunya ke telaga yang ada di dekat rumah gubuknya.

“Coba kamu aduk lagi yang rata ini garam di telaga ini”. Perintah simbah,sembari memberikan segenggam garam kpd cucunya.

Setelah mengaduk rata garam ke telaga, simbah menyuruh cucunya untuk meminum air telaga itu.

“Hmm…Segeeerr, mbah” jawab si cucu.

“Begitulah Cu, hati bila sekecil gelas, semuanya akan terasa asin.
Namun jika hati ini (sambil menepuk dada si cucu) seluas telaga,semuanya akan terasa tawar.”
Si cucu mengangguk tanda paham…

” Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.

Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.

Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Kata simbah…

simbah lalu kembali memberikan pitutur: “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya.

Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,
buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
si cucu akhirnya tanpa sadar menitikkan air mata, simbah pun mengusap tanda sayang,sembari mengajak pulang.

Wes lah…,Tamat. Nek tak teruske banjir banyu moto nko..:D 😀 😀

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s