10 Pedoman Filsafah Orang Jawa

Pedoman hidup model Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan usang. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan.
Berikut 10 dari sekian banyak filsafah yang menjadi pedoman hidup orang Jawa.

1.Urip Iku Urup

“Hidup itu Nyala”, Hidup itu seyogyanya bisa memberi kemanfaatan bagi orang lain minimal orang-orang yang ada disekitar kita. Sekecil apapun perbuatan kita,andai bisa diambil manfaatnya bagi orang lain alangkah bermanfaatnya hidup.

Dalam Islam ada ungkapan,Khoirunnaas anfa’uhum Linnaas,”Sebaik-baiknya manusia,adalah yang memberikan manfaat bagi manusia lain”.

Individualis menjadi pedoman manusia abad modern,falsafah hidup yang menuntun kebersamaan,gotong royong (kerigan),budaya menyapa seakan sudah menjadi budaya kuno yang hanya milik kaum pinggiran.

seseorang yang berjiwa ‘pemimpin’ memiliki keterpanggilan untuk menolong orang lain, memiliki jiwa dan semangat memberi manfaat kepada sesama, memiliki karakter Nafi’un li ghairihi.
Kebaikan seseorang, salah satu indikatornya adalah kemanfaatannya bagi orang lain. Keterpanggilan nuraninya untuk berkontribusi menyelesaikan problem orang lain. Bahkan manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Tentu saja falsafah diatas ini sangatlah luas maksudnya. Bukan sekedar manfaat materi saja,kemanfaatan yang bisa diberikan kepada orang lain bisa berupa :

Ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum/dunia

Seseorang yang bisa memberikan kemanfaatan pada orang lain dengan ilmu yang dimilikinya bahkan, seseorang yang memiliki ilmu agama kemudian diajarkannya kepada orang lain dan membawa kemanfaatan bagi orang tersebut dengan datangnya hidayah kepada-Nya, maka ini adalah keberuntungan yang sangat besar. lebih besar dari unta merah yang menjadi simbol kekayaan orang Arab.

Begitu pula ilmu umum yang diajarkan kepada orang lain juga merupakan bentuk kemanfaatan tersendiri. Terlebih jika dengan ilmu itu orang lain mendapatkan keterampilan hidup, lalu dengan keterampilannya ia mendapatkan nafkah untuk sarana ibadah dan menafkahi keluarganya, lalu nafkah itu juga anaknya bisa sekolah, dari sekolahnya si anak bisa bekerja, menghidupi keluarganya, dan seterusnya, maka ilmu itu menjadi pahala jariyah baginya.
“Jika seseorang meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; shadaqah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya”[HR. Muslim]
Ilmu yang bermanfaat dalam hadits di atas bukan sekedar ilmu agama, tetapi juga bisa ilmu umum seperti contoh di atas.

Materi

Seseorang juga bisa memberikan manfaat kepada sesamanya dengan harta/kekayaan yang ia punya. Bentuknya bisa bermacam-macam. Secara umum mengeluarkan harta di jalan Allah itu disebut infaq. Infaq yang wajib adalah zakat. Dan yang sunnah biasa disebut shodaqah. Memberikan kemanfaatan harta juga bisa dengan pemberian hadiah kepada orang lain. Tentu, yang nilai kemanfaatannya lebih besar adalah yang pemberian kepada orang yang paling membutuhkan.

Tenaga/Keahlian

Bentuk kemanfaatan berikutnya adalah tenaga. Manusia bisa memberikan kemanfaatan kepada orang lain dengan tenaga yang ia miliki. Misalnya jika ada perbaikan jalan kampung, kita bisa memberikan kemanfaatan dengan ikut bergotong royong. Ketika ada pembangunan masjid kita bisa membantu dengan tenaga kita juga. Saat ada tetangga yang kesulitan dengan masalah kelistrikan sementara kita memiliki keahlian dalam hal itu, kita juga bisa membantunya danmemberikan kemanfaatan dengan keahlian kita.

Waktu/perhatian

Adakalanya kemanfaatan yang diperlukan seseorang bukan lagi masalah harta atau keahlian tertentu, tetapiia butuh teman atau orang yang mau memperhatikannya. Ini bisa terjadi pada orang tua (kakek/nenek) yang tidak memiliki famili. Meskipun ia kaya raya dan secara materi tercukupi tetapi ia membutuhkan perhatian orang lain. Bisa juga seorang sahabat yang sedang ditimpa musibah, sering kali ia membutuhkan perhatian dan waktu kita lebih dari materi apapun.

Sikap yang baik

Sikap yang baik kepada sesama juga termasuk kemanfaatan. Baik kemanfaatan itu terasa langsung ataupun tidak langsung. Maka Rasulullah SAW memasukkan senyum kepada orang lain sebagai shadaqah karena mengandung unsur kemanfaatan. Dengan senyum dan sikap baik kita, kita telah mendukung terciptanya lingkungan yang baik dan kondusif. Kita juga telah memperkuat jiwa orang lain; baik disadari atau tidak.
Semakin banyak seseorang memberikan kelima hal di atas kepada orang lain -tentunya orang yang tepat- maka semakin tinggi tingkat kemanfaatannya bagi orang lain. Semakin tinggi kemanfaatan seseorang kepada orang lain, maka ia semakin tinggi posisinya sebagai “manusia terbaik”.(*)

Bersambung…

One comment

  1. Ping-balik: 10 Pedoman Hidup Orang Jawa (2) | agus88 Mobile Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s