Mengenal Isteri-Isteri Nabi SAW

Sebagai aturan syariat yang hanya berlaku untuk Nabi Muhammad saw, beliau menikahi lebih dari 4 wanita. Hal ini tak lepas dari amanah dakwah Islam baginya.Beberapa di antaranya dinikahi oleh Rasulullah saw agar dapat melindungi dan menjaga wanita tersebut dari fitnah dan penderitaan.Nabi Muhammad saw menikah dengan 12 wanita selama hidupnya. Beberapa di antaranya adalah keturunan Yahudi dan ada juga seorang budak yang dibebaskannya. Sedangkan sebagian besar dari mereka adalah janda yangmasuk Islam setelah mendapat lamaran dari Rasulullah saw. Dari situ bisa dipahami bahwa pernikahan-pernikahan ini berkaitan dengan amanah dakwah yang diembannya. Berikut para ummahatul mukminin, para istri Rasulullah saw, seperti yang berhasil dikutip dari Detik.com :

1. Khadijah Binti Khuwailid

Nama lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab Al-Quraisyiyah Al-Asadiyah. Ibunya bernama Fatimah binti Zaidah bin Jundub. Khadijah lahir pada tahun 556 M atau 68 tahun sebelum hijrah (15 tahun sebelum Tahun Gajah). Berikut seperti yang terulis dalam Al-Istiab fi Ma’rifah Al-Ashhab.
Khadijah lahir dan tumbuh besar di tengah keluarga yang terhormat dankaya raya. Khadijah juga merupakan wanita yang cerdas, tanggguh dan cantik sehingga banyak lelaki yang berusaha untuk meminangnya.
Ketika itu, Khadijah memiliki julukan’ath-Thahirah’ yang artinya suci dan bersih, karena kebersihan riwayat hidup dan reputasinya. Dia juga mendapat julukan ratunya wanita Quraisy, karena sikapnya yang patut menjadi teladan. Pada tahun 575 M, Khadijah ditinggalkan ibunya. Sepuluh tahun kemudian, ayahnya, Khuwailid menyusul.
Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad saw, Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-tamimi. Dari pernikahan tersebut,Khadijah memiliki dua orang anak yaitu Halah dan Hindun. Setelah suaminya meninggal, Khadijah mewarisi harta yang sangat banyak dan relasi dagang yang luas. Khadijah kemudian menikah untuk kedua kalinya dengan Atiq bin A’idz bin Abdullah Al-Makhzumi. Tak lama kemudian, suami kedua Khadijah ini meninggal dunia dan mewariskan banyak harta dan jaringan dagang yang sangat luas juga.
Setelah ditinggal oleh dua orang suaminya, Khadijah cenderung menutup diri dari para lelaki yang mendekatinya. Hingga suatu saat Khadijah jatuh hati pada Muhammadsaw yang jujur dan baik hati. Muhammad saw saat itu bekerja pada Khadijah untuk menangani perdagangan ke Syam (Syiria). Khadijah pun ingin menikah dengan Muhammad.
Menurut buku Hayat Muhammad karya Haekal disebutkan Khadijah pernah membicarakan niatnya ini dengan saudaranya, Nufaisa binti Munya. Nufaisa yang menemui Muhammad saw dan menyampaikanniat Khadijah. Muhammad menyatakan kesetujuannya.
Akhirnya dengan mas kawin 20 ekor unta muda, Nabi Muhammad saw menikah dengan Khadijah pada tahun 595 M. Sejak menjadi istri Muhammad saw, Khadijah mempercayai dan meyakini segala hal tentang suaminya. Khadijah merupakan orang pertama yang mengakui kenabian Muhammad saw.Keduanya hidup dengan penuh kasih sayang. Khadijah menempati posisi pertama di hati Rasulullah. Aisyah pernah cemburu karena Muhammad saw selalu menyebut nama Khadijah.
Sejak suaminya menjadi nabi, Khadijah selalu berdiri di samping beliau untuk membela, dan mendukung dakwah dan menghadapi segala siksaan kejam. Khadijah wafat pada usianya yang ke-65 tahun pada tanggal 10 Ramadan tahun ke-10 kenabian atautiga tahun sebelum tahun hijrah ke Madinah. Ketika itu, Nabi Muhammad berusia 50 tahun. Khadijah dimakamkan di dataran tinggi Mekah yang dikenal dengan sebutan Hajun.

2. Saudah Binti Zam’ah

Setelah Khadijah meninggal pada tahun ke-10 kenabiannya, Rasulullahsangat bersedih. Apalagi putra-putrinya masih membutuhkan seseorang untuk mengurus dan mendidiknya. Melihat hal itu, Khaulah binti Hakim menawarkan dua orang wanita yang bisa dijadikan istri yaitu Saudah binti Zam’ah dan Aisyah. Namun karena pada waktu itu Aisyah masih kecil, maka beliau memilih Saudah untuk menjadi istrinya.
Istri kedua Rasulullah ini bernama lengkap Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdu Syams bin Abdu Wadd bin Nashr bin Malik bin Hassan bin Amir bin Lu’ay bin Ghalib bin Malik Al-Quraisyiah Al Amiriyah. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad saw, Saudah telah menikah dengan Sakran bin Amru. Suami istri ini setelah masuk Islam, berhijrah ke Habasyah (Etiopia). Namun setelah kembali ke Mekah, sang suami meninggal dunia. Saudah sangat sedih karena keluarganya belum masuk Islam. Dirinya pun akhirnya mendapat hinaan dan siksaan dari keluarganya.
Karena itu, ketika Khaulah menawarkan dirinya untuk menikah dengan Rasulullah, Saudah sangat berbahagia. Saudah menjadi istri yang menghibur hati Rasulullah. Wanita yang memiliki selera humor yang baik ini selalu membuat Rasul tertawa.
Pada suatu hari, seperti yang diriwayatkan Ibnu Sa’ad, Saudah berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Rasulullah, kemarin aku mengerjakan salat di belakangmu, lalu aku memegang hidungku karenatakut keluar darah (telalu lama rukuk),” Rasulullah pun tertawa mendengarnya. (Ibnu Sa’ad Ath-Thaqabat Al-Kubra). Saudah meninggal dunia di Madinah pada tahun 19 H.

3. Aisyah Binti Abu Bakar

Ketika dinikahi Rasulullah, Aisyah masih berusia 6 tahun. Sebagaimanadiriwayatkan sediri olehnya,”Rasulullah menikahiku saat aku berusia 6 tahun dan aku baru berumah tangga dengan beliau ketika berusia 9 tahun.” (HR Muslim).
Aisyah terlahir dari keluarga yang sudah memeluk Islam. Aisyah menuturkan, “Aku belum berusia baligh ketika keuda orang tuaku sudah memeluk Islam.” (HR Muslim).
Ketika dewasa, Aisyah tumbuh menjadi wanita yang cantik, bermata besar, berambut keriting dan berwajah cerah. Aisyah menjadi wanita kedua yang paling dicintai Rasulullah setelah Khadijah. Sehingga istri-istri Nabi saw pun sempat cemburu kepada Aisyah.
Bahkan pada suatu hari, para istri Nabi saw mendatangi putri Nabi, Fatimah dan memintanya menyampaikan pesan kepada Rasulullah saw. Fatimah pun berkatakepada Rasulullah, “Rasulullah, istri-istri Anda mengutusku untuk menemuimu guna meminta keadilankepadamu dalam permasalahan putri Abu Quhafah (Aisyah).”
Aisyah yang saat itu sedang bersamaRasulullah hanya bisa terdiam. Rasulullah berkata, “Putriku, bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?”
Faimah menjawab, “Ya.”
Rasulullah berkata, “Kalau begitu, cintailah Aisyah.” Mendengar hal tersebut, Fatimah pun bangkit, berpamitan kepada ayahnya dan menyampaikan pesan Rasulullah tersebut kepada para istri Nabi saw.
Para istri Nabi setelah mendengar laporan dari Fatimah, mereka berkata, “Menurut kami, kamu belum sepenuhnya seperti yang kamiharapkan. Kembalilah kepada Rasulullah dan sampaikan lagi kehendak kami agar beliau berlaku adil dalam permasalahan terkait putri Abu Quhafah.”
Fatmah berkata, “Demi Allah! aku tidak akan berbicara lagi tentang permasalahan ini kepada beliau.”
Mereka akhirnya mengutus Zainab binti Jahsy. Zainab kemudian mengutarakan maksud kedatangannya. Setelah itu dia mencela Aisyah habis-habisan. Aisyah berkata, “Aku mengamat-amati Rasulullah untuk mencari tahuapakah beliau mengizinkan aku untuk membalas. Zainab terus saja melampiaskan kemarahannya kepadaku hingga aku tahu Rasulullah tidak mempermasalahkanbila aku membela diri.”
Aisyah membalas kemarahan Zainab hingga dia dapat mematahkan ucapan Zainab dan mengalahkannya.Melihat hal itu, Rasulullah tersenyumdan berkata, “Inilah dia putri Abu Bakar.” (HR Abu Bakar, Al-Adab Am-Mufrad)
Aisyah berperan penting dalam kehidupan Nabi Muhammad saw, sehingga ketika terjadi peristiwa Ifkiatau fitnah besar terhadap Aisyah, Rasulullah sangat sedih sehingga kemudian turunlah wahyu dari Allah yang membebaskan Aisyah dari fitnah orang-orang munafik tersebut.
Aisyah adalah istri Nabi Muhammad saw di dunia dan akhirat. Bahkan Rasulullah meminang Aisyah berdasarkan wahyu Allah dalam mimpinya. Rasulullah mengisahkan mimpi ini kepada Aisyah, “Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam. Ketika itu malaikat datang bersamamu sambil mengatakan, ‘ini adalah istrimu’. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu, kemudian aku berkata, ‘sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah.” (HR Al Bukhari)
Sebagai istri Nabi, Aisyah mendukung perjuangan Nabi dalam berdakwah. Aisyah juga dikenal sebagai wanita yang cerdas dan memiliki ilmu bahasa yang tinggi. Dia bahkan menjadi seorang ulama perempuan, seorang ahli dalam ilmufikih, ilmu Alquran dan tafsirnya. Ia juga banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw.
Aisyah meninggal pada tahun 57 H dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di pemakaman Baqi.

4. Hafshah Binti Umar

Hafshah berasal dari suku Arab Adawiyah, lahir pada tahun yang sama dengan tahun pembangunan Kabah. Hafshah mewarisi sifat ayahnya, Umar bin Al-Khatab. Kepribadiannya berani dan tegas. Pada zaman jahiliyah, Umar adalah pemimpin Quraisy yang pemberani, gagah, kejam, dan ditakuti. Setelah masuk Islam, Umar masih juga disegani.
Sebelum menikah dengan Rasulullah,Hafshah telah menikah dengan Khunais bin Hudzaifah bin Qais As-Sahmi Al-Quraisy. Khunais sebagai pemeluk Islam yang taat, terpanggil untuk ikut berjihad dalamperang Badr (2 H) dan perang Uhud (3 H). Namun dalam Perang Uhud Khunais meninggal dunia, Hafshah saat itu masih berusia 18 tahun.
Umar sangat sedih melihat anaknya menjadi janda di usia yang sangat muda. Dia kemudian menemui Utsman bin Affan dan Abu Bakar namun keduanya menolak. Rasulullah yang mendengar cerita tersebut berkata kepada Umar,”Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Abu Bakar dan Utsman. Utsman pun akan menikah dengan seorang yang lebih baik daripada Hafshah.”
Semula Umar merasa kecewa, namun kemudian dia memahami maksud Rasulullah dan berbahagia dengan niat Nabi saw untuk meminang putrinya. Umar juga akhirnya memahami mengapa Abu Bakar menolak menikahi anaknya.
Hafshah adalah istri ke-4 Nabi Muhammad saw. Dia sangat mencintai Rasulullah, saking cintanya, Hafshah kadang terjebak pada rasa cemburu kepada Rasulullah. Kadang sang ayah, Umar,menasehati putrinya agar tak terlalucemburu.
Meski pencemburu Hafshah adalah wanita yang taat beribadah. Dia rajin berpuasa dan tak pernah meninggalkan salat Tahajud. Jibril pun membela Hafshah, Jibril menyampaikan jaminan Allah bahwaHafshah termasuk dalah satu istri Nabi saw di surga.
Hafshah juga merupakan wanita yang sangat cerdas. Saat itu masih jarang orang yang bisa menulis dan membaca, namun Hafshah sudah menguasainya. Hafhsah bukan hanya membaca Alquran akan tetapidia memahami dan merenungkannya. Hafshah kemudianmengumpulkan Alquran, menyimpandan memeliharanya. Mushaf asli Alquran bahkan berada di rumah Hafshah hingga ia meninggal (HR Bukhari).
Dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menyimpan mushaf Alquran, Hafshah dijuluki Hafizhah Alquran (penjaga Alquran). Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Alquran disatukan dalam satumushaf dengan meminta mushaf itudari Hafshah.
Hafshah meninggal tahun 45 atau 47H pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam usia 60 tahun. Ada yang berpendapat, dia wafat saat sedang berpuasa dan dimakamkan di Baqi, bersebelahan dengan makam istri-istri nabi yang lain.

5. Zainab binti Khuzaimah

Zainab merupakan keturunan bangsawan yang terpandang. Ibunya bernama Hindun binti Auf. Tahun kelahiran Zainab tidak diketahui pasti, akan tetapi ada riwayat yang menyebutkan bahwa dia lahir pada 13 tahun sebelum kenabian. Sebelummasuk Islam Zainab sudah dikenal dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin), seperti yang dijelaskan dalam Ath-Thabaqat karya ibnu Saad.
Ini gelar yang luar biasa, sebab dalam tradisi orang-orang Quraisy, bersedekah biasanya dilakukan oleh orang-orang tua. Tapi Zainab tidak demikian. Pada umur ke-16 tahun, gelar tersebut telah disandangnya.
Ketika Islam muncul dibawa Muhammad saw, Zainab langsung meyakinininya. Dengan begitu, Zainab termasuk dalam golongan orang-orang yang pertama masuk Islam. Dia masuk Islam bersama sang suami dalam kehidupan yang penuh keprihatinan dan keterbatasan.
Sebelum menikah dengan Rasulullah,Zainab telah beberapa kali menikah. Para sejarawan menyebutkan suami pertama Zainab adalah Thufail bin Harist bin Abdul Muthalib yang kemudian menceraikannya. Rasulullah menikahinya untuk melindungi meringankan beban hidup Zainab.
Zainab tak lama menjadi istri Nabi Muhammad saw. Dia meninggal pada usianya yang masih muda kurang dari 30 tahun di bulan Rabiul Akhir tahun 4 H. Zainab adalah istri Nabi saw yang pertama kali dimakamkan di Baqi.

6. Ummu Salamah

Nama sebenarnya dari Ummu Salamah adalah Hindun binti Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum Al-Quraisy. Dia lebih dikenal dengan Ummu Salamah karena anaknya bernama Salamah.
Ummu dibesarkan dalam keluarga bangsawan Quraisy yang dermawan.Tentang Ummu Salamah, Imam Adz-Dzahabi menjelaskan dalam Siyar A’lam An-Nubala, “Ummu Salahadalah wanita terhormat, berhijab dan suci. Dia adalah sepupu dari Khalid bin Walid yang memiliki gelarPedang Allah dan Abu Jahal bin Hisyam. Dia termasuk wanita pertama yang berhijrah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, dia menikah dengan Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi, seorang laki-laki yang saleh.”
Abu Salamah meninggal dunia saat perang Uhud. Setelah masa idahnya habis, banyak pria yang ingin menikahinya, namun ditolaknya. Hingga suau hari Rasulullah datang menemuinya dan melamar Ummu Salamah dan diterima dengan sangat bahagia.
Setelah dinikahi Rasulullah, Ummu Salamah ditempatkan di kamar milik Zainab yang telah meninggal dunia. Ummu Salamah adalah seorang wanita yang memiliki kematangan berpikir dan keputusan yang benar dalam berbagai hal. Salah satu bentuk kecerdasannya adalah saat kaum muslimin hendak umrah tapi tidak diperbolehkan oleh kaum Quraisy yang tertuang dalam perjanjian HUdaibiyah. Usai perjanjian itu, Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk bangkit dan menyembelih hewan kemudian bercukur. Namun tak ada yang melaksanakannya.
Melihat hal itu, Rasulullah menemui Ummu Salamah dan menceritakan hal itu kepada istrinya. Ummu kemudian memberi gagasan,”Rasulullah, apakah engkau ingin agar mereka melakukannya? Bangkitlah, jangan berbicara pada siapapun hingga engkau menyembelih hewan dan memanggilseseorang untuk mencuur rambut Anda.”
“Rasulullah pun bangit dan melakukan saran sang istri. Seketika para sahabat melakukan apa yang dilakukannya hingga seakan-akan mereka akan saling membunuh karena riuhnya.” (HR Al Bukhari)
Ummu Salamah meninggal dunia pada bulan Dzul Qa’dah tahun 59 H di usianya ke-82 tahun.

7. Zainab Binti Jahsy

Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, namanya adalah Barrah. Nama Zainab adalah pemberian dari Nabi Muhammad saw. Zainab dilahirkan di Mekah pada 20 tahun sebelum kenabian.
Ayahnya adalah Jahsy bin Ri’ab yang tergolong pemimpin Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik. Zainab yang cantik dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat. Tak ada catatan pasti tentang kapanZainab masuk Islam. Namun dia merupakan salah satu wanita yang pertama masuk Islam. Allah juga menerangkan hati ayah dan keluarganya sehingga juga masuk Islam.
Keluarga Zainab sangat tabah menerima siksaan dari kaum musyrik dan ikut berhijrah ke Madinah. Saat itu, Zainab masih belum menikah. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad saw, Zainab telah menikah dengan anak angkatnya yang bernama Zaid bin Haritsah. Namun pernikahan ini tak bertahan lama karena keduanya merasa tidak cocok satu sama lain.
Di balik perceraian Zainab dan Zaid, ada tujuan utama yakni merombak kebiasaan jahiliyah dengan mengharamkan perkawinan seorangibu dengan anak angkatnya sebagaimana dengan anak kandung.
Setelah habis masa idah Zainab, Rasulullah saw mengutus seseorang untuk menemui Zainab untuk menyampaikan perintah Allah itu dan lamarannya. Hati Zainab menerima pesan itu dengan berbahagia. Acara pernikahan pun dihadiri oleh warga Madinah. Zainab pun menjadi istri Nabi Muhammad atas wahyu Allah.
Zainab sangat mencintai Rasulullah, apalagi setelah diketahui dirinya dinikahkan langsung oleh Allah dari arasy-Nya. Di hadapan istri-istri Rasulullah saw yang lain, Zanab berkata, “Kalian dinikahkan keluargakalian, tetapi aku dinikahkan Allah atas arasy-Nya.”
Dalam riwayat lain, “Allah telah menikahkanku dari langit.” (HR Al Bukhari). Hal itu membuat istri-istri Nabi Muhammad saw yang lain merasa cemburu, terutama Aisyah dan Hafshah. Suatu hari Rasulullah saw pernah minum madu di samping Zainab dan tinggal beberapa waktu di rumahnya. Aisyahdan Hafshah sudah sepakat, apabila beliau masuk ke rumah salah satu dari istri-istri Nabi Muhammad, mereka akan berkata, “Apakah engkau telah makan buah Maghafir? Aku mencium bau buah Maghafir dari mulut Anda.”
Rasulullah saw menjawab, “Tidak, tetapi aku telah minum madu di samping Zainab dan aku tidak akan melakukannya lagi. Aku bersumpah, jangan kau beritahukan masalah ini kepada siapa pun.” (HR Muslim)
Zainab adalah seorang wanita yang mulia. Dia bekerja dengan kedua tangannya, dia menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah. Ketika Aisyah mendengar kabar meninggalnya Zainab, dia berkata,”Wanita yang mulia dan rajin beribadah, serta menyantuni para yatim dan para janda sudah pergi.” (Ibnu Hajar, Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah)
Zainab adalah istri yang wafat pertama setelah Rasulullah, yaitu tahun 20 H, pada masa Khalifah Umar bin Al-Khathab dalam usia ke-35 tahun. Jenazah Zainab dimakamkan di Baqi. Tentang Zainab, Aisyah berkata, “Semoga Allah mengasihi Zainab. Dia banyak menyamai kedudukanku di hati Rasulullah. Aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik agamanya daripada Zainab. Dia sangat bertaqwa kepada Allah, perkataannya paling jujur, paling suka menyambung tali silaturahmi, paling banyak bersedekah, banyak mengorbankan diri dalam bekerja untuk dapat bersedekah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Selain Saudah, dialah yang memiliki tabiat keras.”

8. Juwairiyah binti Al-Harits

Juwairiyah adalah sayidah Bani Musthaliq. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, namanya adalah Barrah. Setelah menikah, Rasulullah saw memberi nama Juwairiyah. Juwairiyah lahir pada 14 tahun sebelum Nabi Muhammad saw hijrahke Madinah. Ayahnya, Al-Harits adalah pemimpin kaum Yahudi Bani Musthaliq dan Juwairiyah dibesarkandalam kondisi dan lingkungan keluarga Yahudi.
Sebagai anak dari seorang pemimpin, dia memiliki sifat dan kehormatan yang tinggi. Selain cantik, dia juga memiliki pengetahuan yang luas. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, dia pernah menikah dengan pria dari kaumnya yang bernama Musafi’ bin Shafwan. Bani Musthaliq sangat bernafsu untuk mengalahkan tentara Islam dan mengambil alih kekuasaan di antara suku-suku Arab.
Kemudian ayahnya berencana dan telah mempersiapkan tentaranya untuk menyerang kaum muslimin di Madinah. Namun rencana itu terdengar oleh Rasulullah. Beliau punmengutus pasukan untuk menyerangBani Musthaliq.
Sebagai anak pemimpin Juwairiyah sangat menjaga kehormatannya dantak mau menjadi tawanan ataupun budak. Pada waktu pembagian ghanimah dan tawanan, Juwairiyah jatuh kepada Tsabit bin Qais yang hanya prajurit biasa. Maka ia meyakinkan dirinya kalaupun ada manusia yang diberi kesempatan untuk memiliki dirinya, manusia itu bukanlah Tsabit bin Qais, tetapi orang yang menjadi pemimpin Tsabi bin Qais dan kaumnya, yaitu Rasulullah.
Rasulullah saw kemudian menebus Juwairiyah dan menikahinya. Juwairiyah sangat bahagia dengan tawaran Nabi Muhammad saw. Juwairiyah kemudian memeluk Islamdan menjadi salah satu istri Muhammad saw. Ibnu Hajar di dalam kitabnya, Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah tentang Juwairiyah, “Ayah Juwairiyah mendatangi Rasulullah, kemudian berkata ‘Anakku tidak berhak ditawan, karena terlalu mulia dari hal itu. Nabi menanggapi, ‘Apa pendapatmu seandainya anakmu disuruh memilih antara kita, apakah Anda setuju?’. ‘Baiklah’, katanya. Kemudian, ayahnya mendatangi Juwairiyah dan menyuruhnya untuk memilih dirinya atau Rasulullah. Dengan mantap, Juwairiyah menjawab ‘Aku memilih Allah dan Rasul-Nya’.”
Setelah Rasulullah saw meninggal dunia, Juwairiyah mengasingkan diridan memperbanyak ibadah serta bersedekah di jalan Allah dengan harta yang diterimanya dari Baitul Mal. Ketika terjadi fitnah besar terhadap Aisyah, dia lebih banyak berdiam diri dan tak berpihak kepada siapapun.
Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa akhirnya ayah Juwairiyah bersama kedua putranya dan kaumnya masukIslam. Juwairyah meninggal dunia pada masa Khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada sekitar tahun 56 H pada usianya yang ke-65 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, bersebelahan dengan istri-istri Nabi Muhammad saw yang lain.

9. Shafiyah binti Huyay

Shafiyah termasuk dalam keturunan Harun bin Imran. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah saudara Nadhir. Shafiyah lahir 11 tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad saw ke Madinah atau dua tahun setelah kenabian Muhammad saw.
Dia adalah putri pemimpin Yahudi Bani Quraizhah, Huyay bin Akhthab. Ayahnya adalah pemimpin tertinggi kaum Yahudi. Shafiyah sendiri adalah wanita yang cerdas dan memiliki kedudukan terpandang di kaumnya. Sebelum masuk Islam, dia menikah dengan Salam bin Abul Haqiq. Setelah itu, dia menikah dengan Kinanah bin Abul Haqiq. Keduanya adalah penyair Yahudi. Kinanah terbunuh ketika berhadapan dengan kaum muslim saat perang Khaibar.
Setelah perang Khaibar itulah Shafiyah menjadi tawanan perang untuk kaum muslim. Ketika semua tawanan dikumpulkan, Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi mendatangi Rasulullah dan meminta seorang tawanan perempuan. Nabi Muhammad saw mempersilakannya untuk memilih, maka Dihyah memilih Shafiyah binti Huyay. Lalu tiba-tiba seorang laki-laki menemui Rasulullah dan berkata, “Nabi Allah, apakah Anda memberikah Shafiyah binti Huyay putri pemimpin Bani Quraizhah dan Bani Nadhir kepada Dihyah? Shafiyah binti Huyay tidak layak dan sesuai kecuali untuk Anda.” Kemudian Rasulullah memberikan tawaran kepada Shafiyah antara memilih masuk Islam dan dinikahi Rasulullah saw atau tetap Yahudi dan dilepaskan. Shafiyah kemudian memilih masuk Islam dan dinikahi oleh Rasulullah saw.
Shafiyah sangat mencintai Nabi saw,menjelang wafatnya Rasulllah saw, Shafiyah mengatakan, “Demi Allah ya Nabi, aku ingin apa yang Anda derita juga menjadi deritaku.”
Shafiyah meninggal pada usianya yang ke-50 tahun pada masa pemerintahan Mu’awiyah. Marwan bin Al-Hakam mensalati jenazahnya dan memakamkannya di Baqi.
Ummu Habibah
Ummu Habibah lahir pada 17 tahun sebelum kenabian Muhammad saw. Ayahnya yaitu Abu Sufyan, seorang tokoh besar Quraisy yang sangat menentang dakwah Nabi Muhammad saw. Sedangan ibunya, Shafiyah merupakan bibi sahabat Rasulullah saw yaitu Utsman bin Affan. Sejak kecil Ummu Habibah dikenal memiliki kepribadian yang kuat, kefasihan berbicara, sangat cerdas dan sangat cantik.
Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Ummu Habibah telah menikah dengan Ubaidullah bin Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar. Dari pernikahan tersebut, Ummu Habibah memiliki seorang anak bernama Habibah.
Ummu Habibah kemudian masuk Islam bersama suaminya dan hijrah ke Habasyah. Abu Sufyan pun menentang keputusan putri dan menantunya tersebut. Setelah suaminya meninggal, Ummu Habibah dilamar oleh Rasulullah sawdan dinikahi dengan mas kawin 400 dirham. Dia sangat mencintai Rasulullah saw. Setelah Nabi saw meninggal, Ummu Habibah tetap tinggal di rumah Rasulullah. Dia tidak keluar rumah kecuali untuk mengerjakan salat dan dia tidak meninggalkan Madinah kecuali untukberhaji hingga dirinya meninggal dunia pada tahun 44 H di usianya yang ke-70 tahun.

10. Ummu Habibah

Ummu Habibah lahir pada 17 tahun sebelum kenabian Muhammad saw. Ayahnya yaitu Abu Sufyan, seorang tokoh besar Quraisy yang sangat menentang dakwah Nabi Muhammad saw. Sedangan ibunya, Shafiyah merupakan bibi sahabat Rasulullah saw yaitu Utsman bin Affan. Sejak kecil Ummu Habibah dikenal memiliki kepribadian yang kuat, kefasihan berbicara, sangat cerdas dan sangat cantik.
Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Ummu Habibah telah menikah dengan Ubaidullah bin Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar. Dari pernikahan tersebut, Ummu Habibah memiliki seorang anak bernama Habibah.
Ummu Habibah kemudian masuk Islam bersama suaminya dan hijrah ke Habasyah. Abu Sufyan pun menentang keputusan putri dan menantunya tersebut. Setelah suaminya meninggal, Ummu Habibah dilamar oleh Rasulullah sawdan dinikahi dengan mas kawin 400 dirham. Dia sangat mencintai Rasulullah saw. Setelah Nabi saw meninggal, Ummu Habibah tetap tinggal di rumah Rasulullah. Dia tidak keluar rumah kecuali untuk mengerjakan salat dan dia tidak meninggalkan Madinah kecuali untukberhaji hingga dirinya meninggal dunia pada tahun 44 H di usianya yang ke-70 tahun.

11. Maimunah Binti Al-Harits

Maimunah berasal dari keturunan yang baik, saudari dari Ummul Fadhlistri Abbas. Ia adalah bibi dari Khalidbin Al-Walid dan bibi dari Ibnu Abbas. Nama aslinya adalah Bazah kemudian diganti oleh Rasulullah setelah menikah.
Maimunah dilahirkan di Mekah, 6 tahun sebelum diutusnya Rasulullah.Tidak diketahui dengan tepat kapan Maimunah masuk Islam. Namun pernikahan Maimunah dengan dua suaminya sebelum Rasulullah dilakukan sebelum dia masuk Islam. Maimunah memiliki pemikiran dewasa dan berperilaku baik.
Maimunah adalah Ummul Mukminin terakhir yang dinikahi Nabi Muhammad saw. Dia sangat mencintai Nabi saw, sudah sejak lama dia mendambakan untuk mejadi istri Rasulullah saw. Tentang dirinya, Aisyah mengatakan, “Demi Allah, Maimunah adalah wanita yangbaik terhadap kami dan selalu menjaga silaturahmi di anara kami” (Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain)
Pernikahan ini terjadi setahun setelah Perjanjian Hudaibiyah disepakati. Ketika itu Maimunah telah masuk Islam. Maimunah adalah wanita yang pemberani, dia tak segan bersikap keras kepada pelaku kemaksiatan, meskipun mereka adalah kerabatnya sendiri. Maimunah meninggal di usianya ke-80 tahun pada tahun 50 H. Menurut sebagian riwayat, dia adalah istri Nabi Muhammad saw yang terakhir meninggal dunia.

12. Mariyah Al-Qibthiyah

Mariyah adalah seorang budak yang dihadiahkan Muqauqis, Raja Suku Qibthi, Mesir. Nasabnya tidak diketahui secara pasti. Hanya nama ayahnya saja yang diketahui dan dicatat para ahli sejarah. Mariyah dilahirkan di Hafn, dataran tinggi Mesir.
Ayahnya dari Suku Qibthi, sedangkanibunya adalah penganut agama Masehi Romawi. Mariyah merupakangadis yang sangat cantik. Ketika dewasa, dia dibawa ke istana untuk menjadi selir.
Dikisahkan sekembalinya Rasulullah saw dari Hudaibiyah pada bulan DzulQa’dah 6 H, Rasulullah mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hathib bin Balta’ah, menyeru agar Raja Suku Qitbhi memeluk Islam. Muqauqis menerima Hathib dengan hangat, namun dengan ramah dirinya menolak seruannya untuk masuk Islam. Dia justru mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Ma’bur, serta hadiah-hadiah lain untuk Rasulullah.
Di tengah perjalanan, Hathib mengajak mereka masuk Islam. Mariyah dan Sirin menerima ajakan itu. Ketika Rasulullah mengambil Mariyah, dan memberikan Sirin kepada penyairnya Hisan bin Tsabit. Istri-istri Rasulullah saw pun cemburu dengan kehadiran wanita Mesir yang sangat cantik. Nabi pun menitipkan Mariyah ke rumah Haritsah bin An-Nu’man yang terletak di sebelah masjid.
Pada bulan Dzul Hijjah, Mariyah hamil dan dikaruniai seorang putra. Rasulullah saw memberi nama anaknya Ibrahim. Ibnu Sa’ad meriwayatkan tentang ungkapan rasa cemburu Aisyah kepada Mariyah. Aisyah mengatakan, “Aku tak pernah cemburu kepada satu wanita pun kecuali kepada Mariyah, karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik padanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin An-Nu’man Al-Anshari. Kemudian dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau seringkali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kampung Aliyah (Awali), tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Bagi kami, itu sangat menyakitkan. Allah kemudian memberinya putra.” (Ibnu Sa’ad)
Umur Ibrahim tak lama. Ibrahim meninggal saat usianya yang ke-19 tahun. Sedangkan Mariyam meninggal 5 tahun setelah wafatnya Nabi.

[ Sumber ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s